Register

Esports - June 24, 2019

Liquid Buktikan Mereka Pantas Disebut Sebagai Tim CS:GO Nomor Satu

ESL Pro League Season 9 baru saja selesai kemarin tanggal 23 Juni dan Liquid berhasil membawa pulang piala serta hadiah $250.000. Perjuangan tim yang saat ini dijuluki sebagai tim nomor satu dunia oleh organisasi HLTV ini tidaklah mudah. Seusai kalah melawan North, Liquid harus turun ke lower bracket dan harus berjuang untuk dapat masuk ke quarter final. Banyak tim-tim besar yang harus dihadapi Liquid seperti MIBR, Mousesport, G2, dan bahkan Astralis yang sebelumnya memegang julukan tim terbaik. Namun mereka membuktikan bahwa mereka memang pantas disebut sebagai tim CS:GO terbaik di dunia saat ini setelah mengalahkan G2 di pertandingan final ESL Pro League Season 9.

Sebelum event ESL Pro League Season 9 diadakan, banyak sekali perdebatan tentang siapakah yang pantas dijuluki sebagai tim terbaik di dunia antara Liquid atau Astralis. Banyak fans CS:GO yang merasa bahwa gelar yang didapat tim Liquid tersebut dikarenakan tim Astralis yang sebelumnya banyak disebut sebagai tim CS:GO terbaik sepanjang masa, tidak aktif dalam berbagai turnamen di tahun 2019. Tetapi dengan kemenangan tim Liquid kali ini dapat menjadi bukti bahwa gelar yang mereka miliki saat ini mereka dapatkan dari besarnya usaha dan kemampuan yang mereka tunjukkan.

Jonathan ‘EliGE’ Jablonowski selaku IGL (In-Game Leader) dari tim Liquid dengan percaya diri menyatakan “kami adalah 100% tim terbaik di dunia” saat diwawancara oleh HLTV. EliGE kemudian menambahkan bahwa dengan performa yang mereka tunjukkan dalam event tersebut, khususnya setelah mengalahkan tim Astralis, dapat menjadi bukti bahwa tidak ada tim yang lebih baik dari tim Liquid. Tidak berhenti sampai situ, EliGE pun kemudian mendapatkan penghargaan sebagai MVP dalam event ESL Pro League Season 9 Final tersebut dengan rating 1.29 (rating 2.0). Dengan senjata favoritnya yaitu SG553, EliGE mendominasi musuhnya di setiap ronde. Menghadapi event selanjutnya yaitu ESL Cologne, tim Liquid merasa percaya diri bahwa mereka dapat bermain dengan lebih baik lagi setelah mereka memperbaiki kesalahan mereka di pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Sumber