Pantaskah Menyalahkan Video Games Atas Sebuah Tragedi?

Beberapa hari lalu dunia diterpa sebuah tragedi, peristiwa penembakan terjadi dalam sebuah masjid di daerah Christchurch, New Zealand. Dalam peristiwa ini pelaku penembakan banyak mengatakan referensi terhadap meme pop culture seperti “remove kebab” hingga “subscribe to Pewdiepie” yang secara tidak langsung mencatut Youtuber ini sebagai pihak yang terlibat dalam peristiwa penembakan.

Tidak lama setelah peristiwa tersebut sebuah trend mengemuka di Indonesia, yakni mengaitkan tragedi di Christchurch dengan 2 game yang sedang hits di Indonesia, PUBG dan Fortnite hanya karena kesamaan unsur tembak menembak dengan target berjumlah besar.

ADVERTISEMENT

Apakah Penembak benar-benar terinspirasi dari Fortnite dan PUBG?

Dikarenakan kebiasaan pengguna sosial media Indonesia yang mudah percaya pada berita apapun, pelaku dikaitkan dengan fenomena kedua game ini oleh salah satu portal berita di Indonesia. Padahal, itu adalah kebohongan besar. Penembak tidak terinspirasi dari Fortnite maupun PUBG, ia memang memiliki masalah kejiwaan dan stereotip tertentu kepada suatu golongan.

Apakah video games pantas menjadi akar atas tragedi seperti ini?

description
David Katz, pelaku penembakan dalam turnamen NFL di Jacksonville

Bisa iya, bisa tidak. Ada beberapa kasus dimana video game memang menjadi penyebab terjadinya sebuah tragedi contohnya seperti yang terjadi dalam turnamen Madden NFL di Jacksonville, Florida.

David Katz, pelaku penembakan tersebut mengalami kekalahan dalam turnamen Madden NFL dan akhirnya memutuskan untuk melakukan penembakan dan membunuh 2 orang, melukai 11 orang lainnya. Perlu diketahui bahwa Madden NFL adalah game olaharaga, bukan action maupun shooter.

ADVERTISEMENT

Tragedi ini tidak murni berakar dari kekalahan dalam video games, setelah ditelusuri lebih lanjut, David Katz adalah seorang remaja dengan penyakit mental dan memiliki sejarah dimasukkan ke rumah sakit karena penyakit mental tersebut.

Video games bukan akar dari sebuah tragedi, seseorang dengan masalah mental biasanya melarikan diri ke video games kemudian jika sudah tidak menemukan kelegaan dalam bermain video games maka orang itu tidak segan melakukan hal ekstrim. Akhirnya video games menjadi pihak yang dituduh sebagai penyebab dan mendapat stigma negatif.

Disclaimer: tulisan tersebut adalah opini dari sudut pandang pribadi penulis. Keseluruhan isi tulisan tersebut seutuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Panji Pangestu

You might also like