Register

Esports - Gaming - March 24, 2019

Perjalanan Virtual Reality Esports Sejauh Ini

Virtual Reality akan mengambil alih aktivitas dunia game. Itu yang diharapkan Mark Zuckerberg ketika ia membeli Oculus Rift seharga 2 Miliar USD. Namun, kalian semua pasti tahu jika ingin memainkan game VR berkualitas saja harus memiliki spesifikasi PC gaming high end dan headset VR yang super duper mahal. Tetapi, dunia ini masih memiliki banyak sultan […]

Virtual Reality akan mengambil alih aktivitas dunia game. Itu yang diharapkan Mark Zuckerberg ketika ia membeli Oculus Rift seharga 2 Miliar USD. Namun, kalian semua pasti tahu jika ingin memainkan game VR berkualitas saja harus memiliki spesifikasi PC gaming high end dan headset VR yang super duper mahal. Tetapi, dunia ini masih memiliki banyak sultan yang rela memberikan uangnya demi rasa penasarannya terhadap VR.

Pada tahun 2018, Database milik Valve melaporkan bahwa 0,8% pengguna Steam memiliki headset VR yang terpasang pada komputer mereka. Data tersebut menunjukkan bahwa hampir dua kali lipat dari 16 bulan sebelumnya.

“We’re at the beginning of VR League (VRL), year three, and we have seen a positive response, both in terms of players, teams, and publishers.”

“With titles like Onward and Echo Combat we are seeing more reasons than ever before to take part in the VR League and players are responding to the call to ‘VR’ action. Moreover with Ubisoft launching a competitive title, Space Junkies, is a great sign of what’s to come.”

– Sean Chales, ESL’s Senior Vice President of Publisher & Developer

Jika dilihat-lihat, dari semua judul game VR yang dapat dimasukkan kedalam kategori kompetitif, Echo Combat merupakan salah satunya yang memenuhi semua kriteria sehingga dapat ditandingkan untuk menampilkan kompetisi yang menarik. Game dimana pemain akan bermain sebagai sebuah karakter yang dapat terbang, memanjat dan mengintip dan semua kegiatan tersebut tentu saja diperagakan di dunia nyata.

Headset merupakan salah satu gear pelengkap yang membuat para pemain dapat menikmati game VR secara eksklusif. Maka dari itu, banyak perusahaan seperti Facebook yang terus mengembangkan software berkualitas tinggi agar dapat digunakan untuk menjual hardware milik Oculus. Untungnya, para penggemar VR tak hanya diam. Mereka menciptakan software seperti Revive yang dapat ‘menipu’ Oculus untuk tetap memainkan game pada HTC Vive.

“Kami beruntung karena sejak awal bekerjasama dengan mitra kuat seperti Oculus dan Intel yang bersedia berada di ujung tombak, dan di tahun ketiga ini kami berharap dapat melihat beberapa nama baru bergabung dengan tim,” kata Charles.

Saat ini, jumlah penonton untuk esports VR sangat rendah. Para penonton cenderung menonton game yang mereka mainkan sendiri atau yang mereka kenal. Saat ini, mengenalkan game terbaru VR merupakan salah satu cara untuk memicu rasa penasaran pemain. Game yang dapat menjadi kompetisi yang sengit dan sangat seru ketika disaksikan.

ESL VR LEAGUE

ESL VR LEAGUE

Menurut Charles, ada enam juta tayangan selama musim Liga VR pada tahun 2018. ESL berharap angka itu akan bertumbuh pada tahun 2019.

“Para penggemar benar-benar bersemangat tentang VR esports,” kata Charles. “Melihat para pemain VRL melompat dan bergerak secara dinamis memberikan umpan balik langsung kepada penonton tentang apa yang terjadi di dunia digital.”

Saat ini, sudah diciptakan banyaknya fasilitas VR untuk tetap menumbuhkan VR esport. Seperti contohnya Hubneo VR Lab di Lower East Side of Manhattan yang dimiliki oleh Ilya Polokhim. Penggemar teknologi berusia 40 tahun itu meninggalkan pekerjaan keuangan korporat Wall Street yang bergaji lumayan dan memulai pusat VR-nya sendiri sekitar satu setengah tahun yang lalu. Mengingat bahwa itu adalah Manhattan, ruangnya relatif kecil, terutama dibandingkan dengan pusat pinggiran kota besar di seluruh negeri. Tetapi Hubneo memiliki dua Omnis, serta dua perangkat balap hidrolik, simulasi kokpit terbang, dan ruang untuk game room-VR.

Hubneo VR Lab

“Pemasaran kami sepenuhnya terfokus dengan cara mulut ke mulut,” kata Polokhim. “Pada dasarnya gamer, pembalap, dan pilot datang ke sini dan bermain di sini dan memberi tahu teman-teman mereka tentang tempat itu. Kami tidak menghabiskan uang untuk pemasaran yang sebenarnya. “

Polokhim tidak perlu mengambil pinjaman bank untuk memulai Hubneo. Dia bekerja dengan kenalannya yang juga penggemar VR di Wall Street. Yang lebih menarik dari Hubneo, beberapa pelanggan tetaplah yang menjadi investor. Bahkan pemiliknya adalah penggemar Virtual Reality dan bersemangat untuk membawanya ke ruangan terbuka.

Saat ini, masih sulit untuk memutuskan apakah atau kapankah VR esports akan benar-benar terjun ke dunia esport secara mutlak. Momen dimana seorang streamer terkenal  seperti ‘Ninja’, ‘shroud’ atau bahkan ‘DrDisrespect’ yang akan memainkannya dan memperlihatkannya kepada penjuru twitch dan seketika dimana-mana dipenuhi dengan VR mungkin tidak akan berkembang secara cepat. Tetapi mengingat bahwa Facebook, Intel, dan HTC bersedia untuk terus mendukung liga-liga ini secara finansial, akan ada langkah-langkah untuk membuat VR terus maju.

Sumber

Editor: Panji Pangestu