Review Breaking Bad (TV Series): Dua Sisi Koin Yang Sangat Bertolak Belakang

Sebuah tragedi bisa merubah orang menjadi monster, itulah cerita yang terus ditekankan oleh drama kejahatan Breaking Bad. Seri TV yang ditulis dan diproduksi oleh Vince Gilligan ini meledakkan hampir semua penikmat film dan seri TV dari seluruh dunia. Menjelang episode-episode terakhir dari seri TV fenomenal ini, hype dari para penonton memang tak terbelenggu. 

Untuk review ini, kamu dijamin aman dari spoilerReview ini tidak mengandung spoiler dan hanya mengandung poin-poin minor dari ceritanya saja. 

ADVERTISEMENT

Cerita

Cerita mengisahkan Walter White, seorang guru kimia yang divonis kanker paru-paru. Lebih parahnya lagi, pada saat itu rumah tangga Walt juga sedang mengalami krisis keuangan. Walt pun kebingungan dan takut untuk memberitahu keluarganya perihal penyakitnya tersebut. Pada suatu waktu, Walt diajak Hank, yaitu saudara tirinya untuk menemani menggeledah sebuah rumah yang diduga sedang melakukan aktivitas pemasakan metamfetamina atau meth. 

Walt melihat saudaranya dari kejauhan sedang menginterogasi seseorang dari kaca mobil. Tak disangka-sangka, saat Walt sedang melamun, ia melihat Jesse Pinkman, seorang pelajar yang dulunya ia ajari di sekolah. Walt pun akhirnya mengikuti Jesse. Setelah Walt membujuk Jesse untuk bicara, akhirnya Walt tahu bahwa Jesse juga seorang drug dealerPlot twistWalt pun memutuskan untuk menjadi partner Jesse dalam bidang meth.  Karena kemampuan Walt yang mampu membuat meth dengan kejernihan yang sampai 99.1%, Walt pun memperluas distribusinya dengan bekerja sama dengan beberapa karakter besar seperti TucoGustavo Fring, dan Jack. 

Keistimewaan dari Musim ke Musim

Breaking Bad dapat terbilang menjadi salah satu seri TV beralur lambat. Penonton belum disuguhi dengan ketegangan-ketegangan yang diharapkan. Namun, di Breaking Bad, hal ini adalah hal positif yang justru membuat sukses. Di musim pertama, penonton dapat menilai dan memberi simpati kepada Walt. Penonton dihipnotis untuk memaafkan perbuatan Walt dikarenakan beban yang ia jalani. Musim pertama juga merupakan definisi dari start-off yang sangat sempurna. Episode-episode musim 1 bagian A membangun suspensi untuk klimaks episode akhir dimana penonton dipertemukan dengan karakter-karakter yang sangat rumit. 

ADVERTISEMENT

Musim ke-2 dimulai dengan adegan yang sangat intens, karena pada episode pembukaan penonton langsung diberi porsi aksi yang sangat menegangkan. Pada episode awal, Walt diberi peringatan di dunia kejahatan untuk pertama kalinya, karena antagonis dari musim ini, Tuco, memang terbilang mempunyai emosi yang tidak stabil.  Musim ke-2 ini sangat spesial, karena disinilah pertama kalinya karakter yang sangat disimpati oleh penonton pertama kali berubah menjadi seorang monster. Pada season ini juga, penonton mulai meragukan dari si jenius Walter White. 

Musim ke-3 dari seri TV fenomenal ini lebih mengangkat konsep Butterfly Effectdimana suatu kejadian dapat menyebabkan kejadian lain yang lebih besar. Pada musim ini, Walt sudah mendapatkan julukan criminal name terkenal sekaligus alter-ego-nya yaitu HeisenbergWalt sudah memasuki tahap “terlalu jauh untuk menyerah“. Penulis bisa jamin, jika kamu memutuskan untuk menonton Breaking Bad dan sudah memasuki Season 3, kamu akan terbawa pada emosi rollercoasterDisini, penonton sudah dibuat bingung, “Apakah Walt benar-benar karakter protagonis?” 

Musim ke-4, bisa dibilang musim di mana Walt sudah mulai untuk memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli lagi dengan partner-nya Jesse. Di siniWalt sangat sering mengguna-gunakan Jesse. Walt yang kita kenal dari musim pertama rasanya sudah menjadi bayangan saja. Musim ke-4 ini adalah playground-nya Walt. Bahkan, sekarang ia sudah mempunyai “Meth Empirenya sendiri. 

Akhirnya, kita sampai juga pada musim ke-5. Pada episode awal dari musim ke-5Walt yang kita kenal sudah benar-benar hilang. Penonton pun mulai berganti pihak. “I did it for me, i liked it, i was good at it, i was alive” itulah kata-kata simpel yang mendeskripsikan Walt pada musim penutup ini. Ia sudah tidak peduli dengan semua orang disekitarnya lagi. 

Kesimpulan

Rollercoaster dari cerita yang disuguhkan oleh Breaking Bad pada setiap karakternya benar-benar membuat penonton untuk melihat dari dua sisi cerita. Breaking Bad menawarkan kisah drama yang sangat rapih dan detail. Banyak sekali scene yang membuat penonton menyilangkan jari mereka. Sebuah cerita dari guru kimia yang menjadi kingpin ini ditulis dengan saat sempurna. 

Setiap karakter diberi screentime dengan cukup untuk dikembangkan. Bahkan, karakter yang dianggap mengganggu di seri TV ini seperti istri dari WaltSkyler, menjadi karakter penting di seri TV ini. Tidak ada satu karakter tidak berguna pada program acara ini. 

ADVERTISEMENT

Seri ini terkenal dengan embel-embel “lihat pada kedua belah sisi.” Ya, pendapat ini memang benar. Terlihat jelas pada karakter Walt sendiri, ia melakukan semua ini demi menafkahi keluarganya dan ia juga tidak ingin meninggalkan keluarganya dalam keadaan miskin. Namun, semakin sering Walt melakukan tindakan-tindakan jahat sepanjang episode, semakin berubah juga sifatnya menjadi egois, pembunuh berdarah dingin, dan raja dari jalanan. Penonton akan dipaksa melihat kepada dua sisi.  

Ending-nya sendiri, lagi-lagi penonton diberi pilihan dan dibuat bingung, karena penutup dari seri yang kebal dari kritik ini terdapat aksi penebusan dosa dari 2 karakter utama yang sangat mengharukan. Kita bisa melihat seberapa jauhnya emosi mereka berkembang. Oh, damnendingnya saja sangat menyerang hati para penonton, disini, mungkin kesempatan terakhir bagi para penonton untuk menyimpulkan bagaimana karakter dari sang legenda Walter White. 

Untuk Breaking Bad, penulis sendiri memberi skor 10/10. Bukan karena mengikuti hypetrain, tapi memang ini adalah seri TV dengan penulisan terbaik yang pernah penulis tonton. Kalau rata-rata seri TV lain dari episode ke episodenya semakin lemah, Breaking Bad justru kebalikannya. Setiap episode ditutup oleh scene yang sangat penting dan membawa lebih banyak pertanyaan sehingga membuat penonton lebih terpaku pada kursi mereka. Kemudian, semua pertanyaan itu akhirnya dijawab secara bertahap dengan tepat dan sempurna pada second half dari season tersebut. 

Editor: Panji Pangestu

 

100%
Proficiat

Creator Score

  • Overall Rating
You might also like