Register

Entertainment - November 4, 2021

Review Film The Medium: Tradisi Mistis di Thailand yang Mengerikan

The Medium merupakan film horor terbaru yang tayang di bioskop Indonesia pada Oktober 2021. Film ini menjadi salah satu karya yang sangat dinantikan karena hasil kolaborasi dari sutradara film ternama Korea dan Thailand, yaitu Na Hong-jin dan Banjong Pisanthanakun. Dalam film ini Na Hong jin berperan sebagai produser, sedangkan Banjong menjadi director sekaligus menulis naskahnya.

Film ini berfokus pada kehidupan Nim beserta keluarganya yaitu Noi, Ming, dan Manit. Nim sendiri adalah seorang dukun yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai medium dari Dewa Bayan, penjaga di kota Isan, Thailand.

Film dimulai dengan adegan ritual penyembuhan untuk orang-orang sakit yang disebabkan oleh mahluk gaib atau ilmu hitam. Kemudian berlanjut ketika Nim melakukan wawancara dengan tim dokumenter seputar keluarganya yang secara turun-temurun menjadi medium untuk Dewa Bayan.

Selanjutnya cerita mulai menegangkan ketika Ming keponakan dari Nim, menunjukkan tanda-tanda akan dimasuki roh Bayan. Hal itu didokumentasikan oleh tim dokumenter untuk mengabadikan secara langsung proses mistis yang terjadi secara turun-temurun dalam keluarga Nim. Kemudian masalah dalam film ini muncul ketika Nim menyadari bahwa tanda-tanda yang dialami Ming bukan berasal dari roh Bayan.

Nim yang melakukan ritual/GDH Pictures

Film dengan style mockumentary ini menggunakan konsep found footage yang membuat film menjadi lebih real dan seolah-olah membawa kita menyaksikan secara langsung ke tempat kejadian. Metode pengambilan gambar mockumentary dalam film ini digunakan dengan totalitas sehingga kesan mistis dan misteri melekat pada film ini.

The Medium juga semakin terkesan nyata dengan ditampilkannya adegan di mana kamera ditutup dan dimatikan sebentar, sehingga membuat film seketika gelap seolah-olah berhenti merekam. Pengambilan gambar pada setiap scene juga sangatlah jelas dan detail. Beberapa scene yang menonjolkan sisi tradisi membuat film ini seperti mengenalkan kebudayaan yang ada pada masyarakat sekitar.

Film ini tentunya akan sangat mudah dinikmati oleh penonton, khususnya di Indonesia. Karena cerita dalam film ini sangat relate dengan masyarakat Indonesia yang memang di beberapa daerah masih melakukan ritual-ritual keyakinan seperti premis utama dalam film.

Film horror dengan durasi yang lumayan lama sekitar 130 menit ini, memiliki alur yang cukup lambat. Meski begitu film ini tidak membosankan, justru membuat kita semakin menikmatinya, ditambah lagi ceritanya membuat kita  penasaran dan tak sabar untuk berpindah pada adegan selanjutnya.

Totalitas akting dalam film ini tidak usah diragukan lagi, sebab para aktor sangat menjiwai peran masing-masing dan tentunya berhasil menciptakan kesan yang baik bagi penonton. Terutama Narilya Gulmongkolpech, pemeran Ming, begitu ciamik ketika sedang melakukan adegan kerasukan banyak roh. Dengan berbagai macam roh yang merasuki Ming, semua dapat diperankannya dengan begitu sempurna. Tak hanya itu, peran sebagai perempuan muda liar juga sangat cocok dan seolah melekat dalam dirinya.

Keanggunan Ming/GDH Pictures

Selain itu juga Sawanee Utoomma, pemeran Nim, perlu diacungi jempol karena begitu natural dan meyakinkan ketika berperan sebagai dukun. Dari ekspresi hingga segi pembawaan dialognya sangat pas dalam memerankan dukun yang begitu percaya dewa hingga berakhir ragu. Selanjutnya para pemeran tim dokumenter juga tak luput menjadi sorotan yang menarik karena mencoba menunjukan sisi profesional kerja.

Cerita dalam film ini nampaknya juga meninggalkan sebuah misteri, karena terdapat beberapa adegan yang memang tidak dijelaskan secara lebih lanjut. Untuk ending filmnya cukup mengejutkan, dan tidak begitu melegakan pikiran sebab konflik dalam film tidak terselesaikan.

Secara keseluruhan cerita dalam film ini sangatlah menarik karena dalam setiap scene berhasil menampilkan kejutan yang membuat kita tidak bosan ketika menonton. Untuk kalian yang memang pencinta film horror, The Medium dapat menjadi pilihan film di bioskop. Tapi bagi orang-orang hemophobia, sebaiknya jangan menonton film ini karena dalam cerita terdapat adegan penuh darah yang benar-benar ditunjukkan tanpa henti dari awal hingga akhir film.

Editor: Panji Pangestu