Review Lucifer (2016): Iblis yang Jatuh ke Los Angeles

Kini serial TV bergenre crime sudah berjajar dimana-mana. Dari mulai Sherlock, The Mentalist, Castle dan lain-lain. Bagi para penggemar crime solving, tahun-tahun sekarang merupakan surga bagi mereka. Namun dikala kebanyakan serial TV crime solving hanya mengandalkan akal, kerja sama tim, dan forensik, bagaimana bila ditambahi bumbu fantasi? Lebih tepatnya, ilmu gelap. Deskripsi tersebut cocok sekali ditempelkan pada serial TV berjudul Lucifer, yang akan dibahas kali ini.

Lucifer pertama tayang pada tahun 2016 dan ditangani oleh Fox Studios, walaupun kini sudah diambil alih oleh Netflix. Lucifer merupakan serial TV bergenre crime dan fantasy. Walau menurut penulis, menganggap bahwa Lucifer hanya mempunyai dua genre dapat disebut “meremehkan”. Tokoh utama pada serial TV ini, sudah bisa ditebak, Lucifer Morningstar sendiri yang diambil langsung dari karakter yang sama pada serial komik Sandman terbitan DC.

ADVERTISEMENT

Cerita

Bertempatkan di Los Angeles, kota dimana malaikat jatuh, Lucifer Morningstar memutuskan keluar dan mengabaikan neraka untuk mencari hiburan di bumi. Di sini, ia dihadapkan dengan banyak dilema terkait kemanusiaan dan perasaan. Lucifer pun akhirnya bertemu dengan beberapa orang-orang baru yang tanpa ia ketahui dapat merubah cara berpikir dan emosinya terhadap kehidupan dan eksistensinya. Salah satunya, tanpa ia sadari, ia membantu memecahkan kasus-kasus pembunuhan dengan seorang partner.

Pada setiap episode penonton disuguhi dengan drama crime yang unik dan memutar otak. Jika pada serial TV crime lain sang karakter utama biasanya memecahkan kasus dengan akal dan nalurinya sendiri, disini Lucifer tidak peduli untuk mengeluarkan beberapa kekuatannya agar memperlancar proses crime-solving. Tentunya untuk memikat partner-nya juga, Detective Chloe.

Tidak ada satu pun episode dimana kasus pembunuhannya lemah. Setiap kasus mempunyai penyelesaian yang diluar nalar namun tetap masuk akal. Setiap episode diakhiri dengan cliff-hanger yang dapat membuat penonton menanti-nanti kelanjutannya.

Karakter dan Akting

ADVERTISEMENT

Lucifer Morningstar (Tom Ellis) tentunya bukan iblis yang kesepian. Ia berhasil mendapatkan seorang partner yaitu Detective Chloe Decker (Lauren German). Chloe merupakan karakter yang mempunyai sifat yang bersebrangan dengan Lucifer. Dimana Lucifer merupakan karakter yang usil, penuh sarkas, dan aktif, Chloe Decker menjadi karakter yang serius, pintar, dan pengganti suasana. Duet Lucifer-Chloe menjadi salah satu poin yang menarik dari serial TV ini.

Lucifer juga tidak datang ke bumi sendirian. Ia mempunyai asisten iblis perempuan yang bernama Mazikeen (Lesley-Ann Brandt). Keberadaan Mazikeen membuat penonton ingat kalau karakter-karakter yang ditampilkan merupakan mahkluk dari neraka. Sementara itu, Amenadiel (D.B. Woodside) mungkin menjadi karakter supernatural paling manusiawi di serial TV ini. Ia merupakan malaikat yang dikirim Tuhan untuk menangani Lucifer.

Dalam serial TV ini, semua aktor yang masuk ke layar terlihat sangat kompak dan kompetitif dalam beradu akting. Tidak ada satu scene pun dimana akting terlihat palsu maupun membosankan. Setiap kata yang dikeluarkan, setiap wajah yang diraut, terlihat sangat asli.

Namun sayang, ada beberapa karakter yang mempunyai role yang lumayan signifikan namun tidak mendapat screentime yang layak.

Ringkasan

Lucifer merupakan hembusan angin baru di dalam tumpukkan genre Crime. Elemen fantasi yang kental membuat jalan baru dalam memecahkan sebuah kasus pembunuhan yang setiap episodenya unik dan ekstra. Tidak lupa, komedi dan sarkas yang dikeluarkan dalam serial TV ini tidak memaksa dan benar-benar edgy. Setiap karakter mendapatkan momen-momennya masing-masing tanpa terlihat terpaksa.

Fox melahirkan sebuah magnum opus yang tidak biasa. Sementara itu, Netflix mengambil obornya dan merawatnya dengan baik hingga saat ini.

ADVERTISEMENT

Editor: Panji Pangestu
8.5
Awesome

Creator Score

Serial yang cukup menarik untuk diikuti

  • Design 8.5
You might also like