Register

Gaming - April 25, 2021

Review Valheim: Simulasi Bertahan Hidup di Mitologi Nordik

Ketika kalian sangat menggemari game dengan cerita berbasis mitologi atau bahkan ingin merasakan kembali sensasi seperti bermain Skyrim, kalian tidak boleh melewatkan game yang satu ini. Valheim adalah game yang mengangkat citra rasa mitologi Nordik, menjadikan kalian seorang Viking yang akan berkelana mencari kekuatan bernama Forsaken Power. Penasaran seperti apa Valheim yang akhir-akhir ini ramai dimainkan? Yuk simak artikelnya!

Gameplay

Mengalahkan Moder

Ketika mitologi Nordik menceritakan bahwa mereka memiliki 9 dunia, Valheim menjadi dunia ke-10 yang hadir sebagai tempat pembuangan musuh-musuh bapak Agung Odin. Dalam rangka menunjukkan kepantasan pemain sebagai orang yang berhak masuk Valhalla (tempatnya orang-orang terpilih Odin dan orang-orang yang gugur dengan berani ketika berperang), kita dikirim ke Valheim untuk bertahan hidup di tengah lingkungan yang penuh dengan monster mitos serta binatang buas.

Dikategorikan sebagai game Open World Survival Craft, Valheim pastinya menawarkan kita gameplay yang tidak jauh dengan prinsip bertahan hidup, sandang-pangan-papan. Mulai dari membangun membuat pakaian sebagai kebutuhan armor, berburu untuk memenuhi HP dan juga membuat rumah agar dapat berlindung dari badai sudah menjadi aktivitas harian ketika bermain Valheim. Kira-kira hampir sama dengan gameplay yang dimiliki oleh Minecraft, hanya saja disandingi dengan monster mitos milik Nordik.

Pohon Yggdrasil/Istimewa

Selain bertahan hidup, pemain juga diminta untuk melengkapi altar dengan berbagai trophy (sebutan untuk kepala makhluk yang dibunuh). Ketika mempersembahkan sebuah trophy, pemain dapat memakai kekuatan mereka untuk berbagai keuntungan mulai dari bertempur, menebang, hingga berlayar sekalipun. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa pemain harus selalu mencari dan melakukan peningkatan pada equipment yang dikenakan. Karena semakin bagus bahan yang digunakan, semakin tebal pula armor yang dimiliki.

Fitur

Menyerahkan Trophy ke Altar

Sejauh ini, fitur yang ada pada Valheim sudah dapat dibilang cukup dan apa adanya. Pembuatan karakter untuk pemain juga menunjukkan fitur yang tidak berlebihan, berhubung zaman mitologi Nordik juga bukan zaman modern yang mengharuskan adanya aksesoris tidak pada zamannya. Ketika sudah pernah bermain di salah satu server menggunakan karakter yang telah dibuat, equipment serta barang yang berada pada tas karakter dapat dibawa ke server lain. Artinya, kita dapat menyimpan progress karakter pribadi tanpa terhalang hilangnya barang ketika berganti server. Namun, hal ini juga dapat dimanfaatkan oleh pemain yang “malas” untuk grinding material dan dengan mudahnya tinggal minta transfer barang dari satu server ke server lainnya.

Banyaknya material yang dapat dikumpulkan dan terbagi-bagi berdasarkan kesulitannya juga menjadi salah satu nilai plus yang ada di Valheim. Pemain harus memperoleh peralatan serta armor yang memadai untuk dapat lanjut melawan monster mitos yang lebih kuat. Selain itu, banyak fitur crafting lainnya seperti craft stamina potion, healing potion dan masih banyak lagi berupa makanan, senjata, hingga peralatan tempur lainnya.

Berlayar di Valheim

Selain bertahan hidup dengan sandang dan pangan, kebutuhan tempat tinggal sebagai basecamp juga sebuah keharusan yang dilakukan di Valheim. Dengan membuat base, pemain bisa membuat crate untuk menyimpan berbagai barang, melakukan crafting dengan aman, dan banyak hal berguna lainnya. Kabar baiknya, fitur untuk membangun rumah di Valheim sangat mudah untuk digunakan, pemain juga dibebaskan untuk mendesain rumah sekreatif mungkin.

Grafik

Api Unggun Besar

Tidak terlalu banyak aksesori tak penting, grafik yang ada pada Valheim memancarkan kehidupan Viking secara sederhana. Kebebasan membangun base yang dihadirkan developer kepada pemainnya juga membuat pemain dapat berimajinasi untuk membangun kediaman idaman. Desain senjata yang ada pun sangat memadai dan tidak terlalu banyak efek-efek tidak penting. Animasi battle juga dikemas sedemikian rupa agar menyerupai pertarungan oleh manusia, karena satu-satunya efek mitologi yang ada hanyalah ketika menggunakan Forsaken Power.

Sayangnya, ketika kalian memiliki device yang pas-pasan, partikel-partikel kecil dari perapian ataupun dari pepohonan bisa menjadi bencana yang cukup besar. Framerate akan jatuh dan mengganggu experience kalian ketika mendekati banyak partikel tersebut. Satu-satunya cara tradisional yaitu dengan menurunkan kualitas grafik yang digunakan ketika berada di dalam game sehingga mungkin kalian dapat memainkannya sedikit lebih lancar. Jika tidak berpengaruh, mungkin kalian butuh video card baru.

Soundtrack

Grafik yang dimiliki Valheim memang bisa dibilang tidak terlalu ‘wah’, namun lain hal nya dengan soundtrack. Valheim menawarkan soundtrack beragam sesuai dengan region ataupun keadaan yang sedang terjadi. Musik battle melawan monster mitologi juga memancarkan semangat sehingga terkesan ‘epic’. Selain itu, musik ketika memasuki rumah dan mendapatkan status ‘”rested” membuat kita rileks (istilah kekiniannya chillin’). Intinya, Valheim memiliki selera yang pas dalam pemilihan soundtrack miliknya, baik itu musik tiap pertarungan ataupun keadaan yang sedang dialami oleh pemainnya.

Kesimpulan

Menghangatkan Diri

Dengan hanya 45 jam, penulis dapat melengkapi seluruh altar (5 bos). Kalian dapat menyelesaikan Valheim lebih cepat jika memang bertujuan untuk melakukan speedrun. Namun, akan sangat disayangkan jika kalian hanya melengkapi altar. Valheim menawarkan gameplay yang cukup menarik (tentu saja jika dimainkan bersama teman), seperti memasak makanan, crafting armor yang lebih bagus, bahkan berekspresi menuangkan ide dalam membangun base idaman.

Valheim bisa kalian dapatkan melalui Steam dengan harga Rp 109.000. Karena Valheim masih dalam status early-access, developer pastinya akan menghadirkan banyak sekali updates menarik. Maka dari itu, Valheim menjadi salah satu game yang terbilang cukup pantas untuk dimainkan.

Editor: Panji Pangestu